Si Alif sedang berada dalam puncak keputus-asaannya. Bagaimana tidak, dia dituntut untuk menafkahi dirinya sendiri. Dia memang orang yang kuat. Empat semester lebih uang kuliahnya sudah dibayarkan dengan keringatnya sendiri. Pantang meminta pada orang tua, kakak-kakaknya ataupun teman-temannya secara cuma-cuma. Paling tidak dia akan meminta dalam bentuk pinjaman kepada mereka. Namun itu jarang ia lakukan, karena dia senantiasa menyisihkan sebagian hasil jerih payahnya untuk ditabung. Dia juga adalah orang yang taat beragama. Senantiasa berusaha menjauhi apa yang Alloh larang. Dan senantiasa berusaha melakukan apa yang Tuhannya sukai. Hari-harinya pun berlalu tanpa menghadapi masalah yang besar, karena alhamdulillah, dia senantiasa lulus ujian kehidupan yang Tuhannya berikan. Tetapi kini, semua itu Alif rasa kian rumit dan semakin sulit.




